Di tengah tren global tentang superfood, seringkali kita lupa bahwa Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah dengan kekuatan gizi luar biasa. Istilah ‘superfood’ mengacu pada makanan yang kaya akan nutrisi dan memiliki manfaat kesehatan yang signifikan, dan banyak di antaranya dapat ditemukan di kebun-kebun lokal kita sendiri. Daripada harus berburu biji chia atau acai berry yang mahal, mari kita kenali lebih dekat ‘superfood’ asli Indonesia yang tak kalah hebatnya. Beberapa contohnya adalah tempe, kelor, dan kunyit, yang sudah sejak lama menjadi bagian dari tradisi kuliner dan pengobatan herbal.
Tempe, misalnya, adalah makanan fermentasi dari kedelai yang telah dikenal luas. Proses fermentasinya tidak hanya meningkatkan kekuatan gizi proteinnya, tetapi juga membuatnya lebih mudah dicerna. Menurut data dari sebuah penelitian yang dilakukan oleh Institut Gizi Pangan Indonesia (IGPI) pada 10 Oktober 2025, konsumsi tempe secara rutin dapat membantu menurunkan kadar kolesterol jahat dan meningkatkan bakteri baik dalam usus, yang sangat penting untuk kesehatan pencernaan. Keunggulan ini membuat tempe layak disebut sebagai superfood asli Indonesia. Selain itu, tempe juga kaya akan vitamin B12, yang langka ditemukan pada makanan nabati lainnya.
Kemudian ada kelor, atau Moringa oleifera, yang dijuluki ‘pohon ajaib’. Daun kelor mengandung vitamin C tujuh kali lebih banyak dari jeruk, vitamin A empat kali lebih banyak dari wortel, dan kalsium empat kali lebih banyak dari susu. Pada 14 September 2025, sebuah webinar yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan membahas pemanfaatan daun kelor untuk mengatasi masalah malnutrisi di beberapa daerah terpencil. Juru bicara webinar, Dr. Siti Nurhayati, menjelaskan bahwa kekuatan gizi daun kelor yang padat nutrisi menjadikannya solusi efektif dan ekonomis untuk meningkatkan asupan gizi masyarakat. Daun ini bisa diolah menjadi berbagai macam hidangan, mulai dari sayur bening hingga teh bubuk.
Tidak ketinggalan, kunyit. Rempah-rempah yang memberikan warna kuning cerah ini telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional. Kandungan kurkumin di dalamnya memiliki sifat anti-inflamasi dan antioksidan yang kuat. Sebuah laporan dari Tim Peneliti Bioteknologi di Universitas Nasional pada hari Jumat, 29 September 2025, menemukan bahwa kurkumin dalam kunyit dapat membantu meredakan peradangan kronis yang merupakan akar dari banyak penyakit serius. Petugas penelitian, Bapak Budi Santoso, menekankan bahwa rempah-rempah ini menawarkan kekuatan gizi yang berpotensi besar untuk pencegahan dan pengobatan penyakit. Dengan mengintegrasikan ‘superfood’ lokal ini ke dalam pola makan sehari-hari, kita tidak hanya mendukung petani lokal, tetapi juga berinvestasi pada kesehatan diri sendiri dengan cara yang alami dan terjangkau. Kekayaan alam Indonesia adalah anugerah yang harus kita manfaatkan dengan bijak.
